Kamis, 20 Desember 2012

tentang manusia-manusia kini

sudah terlau banyak orang-orang arogan. yang merasa dirinya paling hebat dan paling benar. sudah terlalu banyak orang yang tidak menjaga amanah. memanfaatkan sebuah kepercayaan hanya untuk sebuah eksistensi belaka. sudah terlalu banyak orang egois, yang menganggap kepentingannya adalah yang paling penting sendiri. sudah banyak manusia berhati baja, yang alpha dengan keadaan kaum-kaum terpinggirkan. sudah terlalu banyak manusia yang hanya mementingkan kepentingan kelompok. sudah terlalu banyak manusia yang mengenali manusia lain dengan tidak menggunakan nurani, semua hanya berdasar masalah kepentingan.

sudah terlalu banyak.....

rasanya ingin meledak saja. tapi tetap saja tidak bisa merubah apapun. dengan bersembunyi di balik buku-buku pun rasanya suara-suara sumbang di lapangan masih sangat terdengar dengan jelas. kehidupan memang mengajari banyak hal. kadang kita menjadi merasa setengah nasionalis, setengah sosialis, setengah melankolis, atau justru setengah materialistis. mungkin kita belajar materialistis dari Marx. bahwa yang patut diperjuangkan adalah hal-hal yang bersifat keduniawian. hal-hal yang mempunyai wujud, bukan sesuatu yang abstrak. makanya sekarang nggak jamannya lagi berlomba-lomba dalam berkebaikan, melainkan sekarang ini, jamannya berlomba-lomba dalam menunjukkan keberadaan dan pengakuan dari orang.

barangkali, apa yang dikatakan ronggo warsito benar. ini namanya jaman edan!

Senin, 26 November 2012

Sisi lain kota kolonial : yang tersisa dari sumbangsih perempuan di Batavia

Sejak awal pembentukannya sebagai kota, Batavia dijadikan pusat penguasa kolonial di Hindia Belanda. Konfigurasi penduduk beserta wilayah pemukimannya sudah berkiblat pada bentuk kemajemukan. Kebiijakan kolonial menetapkan bahwa wilayah-wilayah tertentu dipakai untuk pemukiman penduduk sesuai asal daerahnya. Ada tiga cirri yang perlu diperhatikan untuk dapat memahami struktur ruang lingkup sosiol kota kolonial, yaitu budaya, teknologi dan struktur kekusaan kolonial . Yang patut dicatat dalam usaha Belanda untuk merubah wajah kota adalah adanya Modernisasi di kota Batavia. Modernisasi menjadi hal yang tidak dapat ditawarlagi karena Belanda sengaja ingin menciptakan sebuah kota yang mirip dengan kampong halamannya. Tidak hanya fisiknya saja yang berubah, namu modernisasi yang dibawa dari Belanda juga ikut mempengaruhi gaya hidup sehari-hari masyarakat perkotaan.

Modernisasi yang dibawa Belanda, justru memunculkan budaya baru. Lazimnya, budaya yang muncul pada kota kolonial disebut dengan kebudayaan indis. Budaya ini masih dapat ditemui pada beberapa bangunan yang tersisa dari masa kolonial. Tidak hanya dari sisi arsitektur saja, budaya indis masih dapat dilihat dari mode pakaian atau dari masakan. Tetapi, orang kemudian lupa, bagaimana sebuah kebudayaan bisa muncul, berkembang dan mampu hidup dengan orang-orang masa kini. Sebelum, budaya indis itu muncul, terdapat interaksi yang melibatkan kaum perempuan. Bukan berarti yang melahirkan budaya indis adalah kaum perempuan, hanya saja, perempuan mempunyai peran yang penting dalam terjadinya interaksi antara budaya kolonial dengan budaya pribumi. Interaksi ini menjadi sebuah awal bagaimana sebuah kebudayaan itu saling bertukar unsur atau justru saling bersentuhan.

Pada abad ke 19, sebagian besar laki-laki eropa dan Cina tidak menikahi perempuan lokal yang memiliki hubungan seksual dengan mereka, tapi hubungan seks di luar nikah dan pergundikan sepertinya lebih lazim terjadi. Prostitusi diakui terjadi secara resmi melalui system yang terkendali. Memelihara nyai atau pengurus rumah merupakan hal yang dapat diterima dalam komunitas Eropa dan Cina. Hubungan semacam ini memang tidak pernah disebut-sebut dalam masyarakat Batavia kelas atas, tapi secara tidak resmi hubungan ini dianggap lazim. Banyak tentara eropa tidak mampu menikahi perempuan Eropa, namun mereka memiliki hubungan yang stabil dengan para nyai. Hal ini dianggap lebih baik daripada mereka mengunjungi rumah bordil. Lagipula, dengan cara ini mereka dapat mempelajari bahasa melayu yang merupakan unsur penting dalam hubungan bisnis dan resmi di Batavia. Perempuan-perempuan lokal yang terlibat dalam pergundikan sangat berpengaruh dalam memperkenalkan tradisi-tradisi lokal kepada tuan mereka. Pada saat yang sama, mereka bertindak sebagai perantara budaya dalam masyarakat hindia belanda di Batavia.

Walaupun mereka tidak bisa menikahi tuan-tuan asing mereka, atau terpaksa meninggalkan pelayanan ketika tuan-tuan asing ini kembali ke kampung halamannya, menikah di tempat lain, atau memberhentikan mereka karena mengandung anak yang tidak diinginkan, para nyai biasanya mendirikan bisnis sendiri atau mencari suami baru dari etnis lain dan memperkenalkan gaya hidup baru yang mereka dapatkan dari hubungan pergundikan. Seorang bangsawan Jawa yang berkunjung ke Batavia pada 1869 beranggapan bahwa orang Indonesia di kota ini telah dipengaruhi oleh kebiasaan asing, seperti menggunakan meja dan kursi . Selain menjadi gundik, perempuan pribumi juga dijadikan juru masak, pengasuh anak dan penjahit memberikan pengaruh yang cukup besar dalam terjadinya percampuran budaya Belanda dengan budaya pribumi. Juru masak umumnya mampu menyediakan masakan pribumi juga masakan Eropa. Pada abad 19, rijsttafel menjadi makanan sehari-hari. Para pengasuh berbicara dengan anak-anak Eropa dalam bahasa Melayu, mengajarkan lagu, dan cerita rakyat, serta membesarkan anak dengan cara yang mereka ketahui. Peran para perempuan sebagai pemersatu terlihat jelas disini. Perempuan Eropa atau para gundik menggunakan cenderung menggunakan kebaya putih dengan tepi berenda, sedangkan kebaya perempuan pribumi memiliki ujung runcing, sarung batik mereka pun mempunyai pola tersendiri. Jika peran perempuan pribumi hanya sebatas pada pekerjaan rumah tangga saja, Perempuan- perempuan Eurasia telah menulis buku panduan rumahtangga yang diterbitkan di akhir abad ke-19 mengenai resep masakan dan obat-obatan Hindia.

Kehadiran orang belanda di Batavia disadari telah mempengaruhi gaya hidup masyarakat

Terciptanya sebuah budaya indis tidak terlepas dari peran seniman, arsitek, cendekiawan, rohaniawan dari negri Belanda. (Tetapi, hal ini tidak lantas mengabaikan peran dari pribumi,( dalam bahasan ini perempuan) setempat. Perempuan adalah perantara yang memungkinkan pertukaran persentuhan, serta akulturasi dua kebudayaan yang sangat berbeda.

Bahan bacaan : Djoko Soekiman. Kebudayaan Indis. 2011. Jakarta : Komunitas Bambu Blackburn, Susan. Jakarta sejarah 400 tahun. 2011. Jakarta : Komunitas Bambu

Selasa, 06 November 2012

Menelusuri jejak-jejak cultuurstelsel : beberapa catatan yang tidak layak terbit ?

Banyak sekali buku maupun artikel mengenai Cultuurstelsel yang isinya menggungat tentang kebijakan yang dicetuskan oleh belanda tersebut. Cultuurstelsel selalu diartikan dengan tanam paksa. Padahal jika dilihat dari segi bahasa, istilah “tanam paksa” bukanlah merupakan terjemahan yang tepat untuk cultuurstelsel, yang tepat mestinya adalah Sistem Budidaya tanaman. Tetapi dari segi realitas - menurut P. Swantoro, istilah tanam paksa tepat sekali untuk menerjemahkan culturstelsel. Hal sama juga diungkapkan oleh Peter Boomgard, yang menulis bahwa pada saat diterapkannya cultuurstelsel, masyarakat jawa kurang mendapat rangsangan memadai untuk menghasilkan tanaman perdagangan bagi pasar Eropa, sehingga petani-petani jawa harus dibujuk ( baca : dipaksa) untuk menggunakan sebagian dari tanah garapannya dan sebagian dari tenaga kerjanya untuk membudidayakan kopi, nila dan gula. Begitupula dengan Sartono Kartodirdjo yang amat jelas mengungkap bagaimana bobroknya system yang ditepakan pada rakyat ini. Menurut Sartono, hakikat cultuurstelsel adalah bahwa penduduk sebagai ganti membayar pajak tanah sekaligus, harus menyediakan sejumlah hasil bumi untuk ekspor seperti yang diinginkan pemerintah. Serangan akan cultuurstelsel juga datang dari seorang asisten residen di Lebak, Edward Douwes Dekker yang melayangkan gugatan dalam sebuah novel yang berjudul Max Havelar. Dalam halaman terakhir novel itu, multatuli-begitu nama samarannya, menulis, “Dan kepada tuan saya mempersembahkan buku ini, Willem III, raja, adipati besar, pangeran dan kaisar dari Insulinde yang cantik dan kaya, Jamrud Khatulistiwa, karena di tempat itu lebih dari 30 juta rakyatmu dianiaya dan diperas atas nama tuan,”.

Begitulah sejarah cultuurstelsel selalu ditempatkan sebagai bagian sejarah kelam Hindia Belanda. Di beberapa buku atau artikel yang telah diterbitkan kebanyakan membahas tentang dampak negative cultuurstelsel bagi rakyat Hindia Belanda. Padahal jika membaca artikel dari C. Fasseur yang berjudul The Cultivation system and its impact on the dutch colonial economy and the indigenous society in nineteenth century in java, cultuurstelsel tidak selalu menimbulkan dampak buruk. C. fasseur mengungkapkan bahwa di daerah tertentu misalnya di Jawa Timur, system ini justru dapat meningkatkan kemakmuran. Ledakan penduduk yang terjadi pada masa itu, menurut C. Fasseur juga merupakan kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa saja disebabkan oleh “the Cultivation system”.

Senada dengan apa yang diungkapkan C. Fasseur, Denys Lombard mengungkapkan bahwa peningkatan jumlah penduduk merupakan suatu gejala yang jauh lebih luas yang terdorong oleh konjungtur luar biasa dari dua revolusi siderurgi ( pengolahan besi ) dan revolusi kesehatan. Jika Eropa mengalami revolusi siderurgi sejak abad ke-11 bersamaan dengan pembukaan hutan secara besar-besaran dan revolusi kesehatan sejak abad ke 18. Di jawa- menurutnya- kedua revolusi itu terjadi serempak, yang memang merupakan akibat tidak langsung dari sitem kolonial, tetapi tanpa disadari oleh penguasa kolonial.

Fakta lain yang terungkap mengenai cultuurstelsel dapat ditemukan dalam tulisan A.M Djuliati Suryo, dalam bukunya ia mengunggap tentang cultuurstelsel di daerah Kedu. Menurutnya, System cultuurstelsel dianggap lebih maju dibanding dengan system feodal di mataram. Selain tanah, tenaga kerja dan modal rakyat, pemerintah memasukkan unsur-unsur baru seperti organisasi produksi, modal, tekologi barat (pabrik-pabrik) dan pengusaha swasta. Cultuurstelsel mulai dilaksanakan di Kedu sejak tahun 1831 dengan penanaman kopi secara besar-besaran yang juga menngerahkan tenaga rakyat. Hal ini ternyata mengakibatkan pembangunan berantai untuk mendukung usaha besar ini. Terjadilah suatu pembangunan berantai untuk mendukung usaha besar ini. Jalan-jalan penting perlu diperkeras atau diperlebar demi kelancaran arus angkutan kopi. Apabila di tahun 1812 jalan raya di Kedu hanya 45 km, tanpa fondasi dari batu, tahun 1870 jalan tersebut telah menjadi 216 km dengan fondasi batu dan kerikil sebagai pengeras.

Setiap kebijakan sudah pasti menimbulkan pro dan kontra, begitu juga dengan kebijakan cultuurstelsel. Yang menarik, ternyata cultuurstelsel adalah sebuah kebijakan kelam yang sudah terlanjur lekat dalam memori kolektif bangsa Indonesia. Sehingga belum begitu banyak ditemukan tulisan-tulisan yang mengungkap tentang sisi lain dari Cultuurstelsel. Padahal, bisa saja, fakta dilapangan tidak selalu seperti itu (seperti apa yang terungkap dari tulisan dari C. Fasseur). Kemudian, muncul sebuah pertanyaan mendasar. Apakah yang sebenarnya terjadi pada masa cultuurstelsel?benarkah kebijakan tersebut hanya memberikan dampak negative bagi rakyat? Ataukah mungkin, ada yang sengaja ditutup rapat dari penulisan-penulisan terdahulu yang terlanjur buta dengan nasionalisme yang terlalu berlebihan.

Bahan bacaan : C. Fasseur . The Cultivation system and its impact on the dutch colonial economy and the indigenous society in nineteenth century in java P. Swantoro. Dari buku ke buku : sambung menyambung menjadi satu. Jakarta. KPG. 2002 Boomgard, Peter. Anak Jajahan Belanda.jakarta. KITLV.2004 Sartono, kartodirdjo. Pengantar Sejarah Indonesia Baru : Sejarah pergerakan nasional. Jakarta . PT Gramedia, 1990 Lombard, Denuys. Nusa Jawa : Silang Budaya batas-batas pembaratan. Jakarta. Gramedia pustaka utama. 1996 A.M. Djuliati Suroyo. Eksploitasi kolonial abad XIX. Yogyakarta. Yayasan untuk Indonesia, 2000 Multatuli. Max Havelaar. Bandung. Percetakan Karya Nusantara. 1972