Tampilkan postingan dengan label suka-suka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label suka-suka. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Desember 2012

tentang manusia-manusia kini

sudah terlau banyak orang-orang arogan. yang merasa dirinya paling hebat dan paling benar. sudah terlalu banyak orang yang tidak menjaga amanah. memanfaatkan sebuah kepercayaan hanya untuk sebuah eksistensi belaka. sudah terlalu banyak orang egois, yang menganggap kepentingannya adalah yang paling penting sendiri. sudah banyak manusia berhati baja, yang alpha dengan keadaan kaum-kaum terpinggirkan. sudah terlalu banyak manusia yang hanya mementingkan kepentingan kelompok. sudah terlalu banyak manusia yang mengenali manusia lain dengan tidak menggunakan nurani, semua hanya berdasar masalah kepentingan.

sudah terlalu banyak.....

rasanya ingin meledak saja. tapi tetap saja tidak bisa merubah apapun. dengan bersembunyi di balik buku-buku pun rasanya suara-suara sumbang di lapangan masih sangat terdengar dengan jelas. kehidupan memang mengajari banyak hal. kadang kita menjadi merasa setengah nasionalis, setengah sosialis, setengah melankolis, atau justru setengah materialistis. mungkin kita belajar materialistis dari Marx. bahwa yang patut diperjuangkan adalah hal-hal yang bersifat keduniawian. hal-hal yang mempunyai wujud, bukan sesuatu yang abstrak. makanya sekarang nggak jamannya lagi berlomba-lomba dalam berkebaikan, melainkan sekarang ini, jamannya berlomba-lomba dalam menunjukkan keberadaan dan pengakuan dari orang.

barangkali, apa yang dikatakan ronggo warsito benar. ini namanya jaman edan!

Sabtu, 30 Juni 2012

Menjadi Penonton di Pentas Sendiri

Mungkin benar yang namanya idealisme hanya hidup di bangku-bangku perkuliahan, saat karakter, jiwa-jiwa muda menggelorakan semangat dan harapan. Dan saya tidak tahu, darimana jiwa ini terbentuk, namun jiwa ini masih lekat menggelantung di setiap jengkal langkah. Rasanya sering sekali saya tergoda, meninggalkan idealisme, lalu dengan mudahnya melebur kotor bersama mereka. Namun, hati kecil saya seringkali menjerit. Jadilah, dalam diri saya kini sebuah pentas pemberontakan antara ya dan tidak. Ya untuk berjalan mengikuti waktu, dan tidak untuk mengkhianati idealisme yang terbangun sendiri, tanpa saya sadari.

Seperti beberapa waktu yang lalu, saat sekumpulan bule menabuh gamelan. Harus saya akui, gendhing yang dihasilkan mereka memang mengalun indah. Tetapi, jika boleh jujur, pentas ini tidak lebih hanyalah pementasan dengan notasi-notasi gending tapi tanpa alunan rasa. Maksudnya, para bule tersebut mempelajari notasi, menabuh gamelan dalam pentas teresebut dengan menghasilkan gendhing yang memang diinginkan tapi, tanpa rasa. Filosofi gamelan yang artinya rasa kebersamaan, tidak terasa dalam setiap alunan gendhing yang dihasilkan itu. Secara kasat mata pengrawit bule itu terlihat kompak , namun entah kenapa saya tidak dapat merasakan “olah rasa” nya.

Namun, bagi sebagian orang, pentas bule ini justu mendapatkan apresiasi yang menurut saya sedikit berlebihan. Sebuah kebudayaan asli, yang hampir hilang digerus jaman, justru sedang dinikmati dan dipelajari orang asing. Sedangkan tanpa perasaan yang lebih peka, penonton yang sebagian besar orang Indonesia tersebut malah bergembira, bertepuk tangan. Tak malukah mereka dengan kondisi ini, dimana kini kebudayaan yang seharusnya mereka kuasai justru dikuasai orang asing.

Tak malukah mereka hanya sebagai penonton di pentas mereka sendiri?

Selasa, 08 Mei 2012

kami perantauan

Ini hanyalah sebuah cerita singkat. mungkin juga terlalu sederhana. ini masih tentang sepenggal cerita pengasingan. sebuah jejak yang tidak sengaja terekam kemudian aku beri arti, mungkin. sudah menjadi rahasia umum bahwa kami para perantauan seringkali merindukan kampung halaman. kadang rindu udaranya, kadang rindu orang-orangnya kadang rindu makananannya atau kadang, hanya merasa rindu saja, tanpa ada sebab yang pasti. seperti malam ini, kerinduan begitu hebat membuncah. aku hanya ingin pulang.

Dan malam minggu itu, saat hujan masih rintik-rintik, aku beranjak. Ditemani mioku yang selalu setia sejak aku kuliah, aku menyusuri jalan di kota depok. aksiku ini memang terbilang cukup berani mengingat tingkat kriminalitas di jalan utama yang sedang aku telusuri ini sangat tinggi. tetapi, sudahlah...barangkali..rindu ini yang terlalu bergelayut mesra..dan aku sudah tidak mampu meredamnya lagi.

Motorku berhenti di sebuah warung tenda. di depan sebuah pertokoan yang telah tutup. warung ini terbilang bersih bila dibanding dengan warung-warung tenda lain yang "nemplek" di sepanjang jalan utama depok. tetapi yang membuatku tertarik, warung ini menyediakan berbagai macam menu khas angkringan. yah...barangkali ini akan sedikit meredam rinduku....mungkin....

Saat memilih beberapa makanan yang hendak aku beli, sayup-sayup terdengar obrolan penjual warung ini kepada temannya. sayup-sayup aku mendengar mereka berbahasa jawa. rasanya aneh. dua orang itu berkomunikasi dan tidak ada yang mengerti apa yang mereka katakan, kecuali aku ya. dan saat itu pula aku merasa telah berada dirumah...hmhmh...rasanya benar-benar ingin pulang. " Mbk, lauknya mau dibakar?" suara salah satu penjual itu membuyarkan lamunanku. sambil sedikit tersenyum, aku pun berkata, "Inggih mas," setelah itu aku melihat rona wajah mereka berubah. matanya menajdi sedikit menyipit, mimik mukanya serius "Loh tiyang jawi to mbk? oh iyo..kuwi plat AD......asli solo?" saat itu pula aku diberodong banyak pertanyaan yang akhirnya aku jawab dengan sedikit basa-basi saja. karena mengingat ini sudah malam, dan aku tidak terbiasa bertukar informasi dengan orang asing. dan akupun pamit. hmhmh..walapun singkat tapi rasanya seperti bertemu saudara sendiri. seperti sudah di rumah..ngobrol dengan bahasa jawa.

Ah sepanjang perjalan itu pikiranku menerawang. aku ingat jaman-jaman masih berkutat dengan diktat kuliah, aku selalu heran dengan komunitas-komunitas kedaerahaan yang diikuti teman-temanku. bahkan beberapa kali ada undangan untuk sekedar mengikuti buka bersama bersama komunitas daerahku aku tidak menghadirinya. namun, barangkali saat itu aku masih berada di jawa tengah jadi mash banyak orang-orang yang mempunyai banyak kesamaan adat dengan aku. barangkali, aku belum benar- benar begitu paham dengan gunanya itu. tapi sekarang aku sadar, bahwa komunitas kedaerahan memang diperlukan bagi kami orang perantauan. bukan sekedar untuk gaul-gaulan, tetapi untuk sekadar meredam kerinduan kampung halaman.

Selasa, 01 Mei 2012

Saat jarak telah siap di rentangkan ( Aku Takut )

Tidak terasa sudah lebih satu tahun aku mengasingkan diri. memberi jarak pada orang-orang tercinta. membei ruang untuk diriku sendiri. memberi jalan untuk langkah yang kecil-kecil. memberi ruang agar kedewasaan seegera tumbuh. memberi ruang untuk apalah itu namanya....Dan disinilah aku. menikmati hari di sudut kota depok.

Semuanya terasa singkat sekarang. karena aku benar-benar menikmati waktuku disini. menikmati waktu dengan malaikat-malaikat kecil itu. ssst...Malaikat kecil, aku selalu menyebut mereka seperti itu. karena bagiku mereka ya...malaikat. merekalah yang membuatku kembali tegar saat kepercayaan diriku hampir-hampir runtuh. mereka juga yang akhirnya berhasil membuatku kembali tersenyum. Allah telah mengirimkan padaku malaikat-malaikat kecil untuk menemaniku disini agar aku tidak merasa sendirian, tidak hanya satu, tetapi banyak....

Harus aku akui, sebenarnya, akulah yang belajar banyak dari mereka. orang-orang dewasa seperti kita terkadang terlalu ambisius hingga tidak bisa menikmati kehidupan yang sebenarnya. orang-orang dewasa mungkin terlalu merasa paling benar sendiri, hingga dengan mudahnya memandang remeh orang lain.

Padahal tidak begitu dengan malaikat kecil itu. aku selalu bisa merasakan rasa yang sebenar-benarnya ketika beraada di antara mereka. Tawa yang sebenarnya, senyuman, ketakutan, kecemasan, perjuangan dan semuanya terasa tulus. tidak penuh kepura-puraan. tidak seperti kita orang dewasa yang sering menjadi munafik. karena tuntutan pekerjaan, idelalisme, pencitraan, uang, ah....apalah itu namanya...aku sudah muak.

Dan sungguhpun setiap hari ada saja tingkah polah mereka yang terkadang bikin aku ingin meledak, tapi sebenarnya aku..tidak tahu bagaimana...sudah memberikan ruang tersendiri bagi mereka dalam koridor hatiku. dan kini, aku begitu menjadi sedemikian takutnya saat menyadari bahwa jarak telah siap aku rentangkan kembali, kali ini kepada mereka-malaikat penyelamatku.Ya...aku takut kehilangan kebersamaan ini....

Maaf. hanya ini yang mungkin sering ingin aku ucapkan kepada mereka namun hanya tertahan di kerongkongan. aku hanya tidak mampu berkata-kata kepada mereka. tentang ini. tentang langkah yang ingin aku ambil. sudah pasti nanti aku akan merindukan mereka. sudah pasti aku akan kehilangan waktu-waktu bersama mereka. sudah pasti aku sekarang dilanda ketakutan...keseddihan karena aku harus melakukan ini sekali lagi saat semuanya sudah dalam kendali, saat semuanya sudah nyaman....mereka sudah memberi banyak warna dalam hidupku...

Seiring berjalannya waktu mereka mungkin akan sedikit-sedikit melupakanku. tapi aku...ah apa mungkin aku mampu melupakan suara-suara riang itu...apa mungkin aku sanggup melupakan binar-binar matanya saat brteriak "Kak..nilaiku sembilan...!" atau suara lemah dan sorot mata kekecewaan saat harus memberikan pengakuan kepadaku bahwa mereka harus remidial. Yah sudah pasti aku nanti akan sangat kehilangan kebersamaan ini. sudah pasti aku akan merindukannya.

Dan aku hanya bisa berharap satu hal....meskipun nanti jauh...semoga Allah membantu kami dalam menjaga ukhuwah ini...amin ya Rabb

Senin, 23 April 2012

coretan malam#2

malam selalu memberiku inspirasi. udaranya, hawa dinginnya, kesunyiannya...semua aku suka. apalagi saat-saat aku kecewa, malam selalu memelukku erat dalam keheningannya. lewat malam-malam pula aku coretkan kisah, memang tidak seindah cerita roman yang indah pada akhirnya. tapi, aku selalu percaya diri menuliskannya karena dibalik coretan ini adalah mahakaryaNya. aku selalu percaya diri..karena di setiap adegan, Dia adalah sutradara terbaik!

malam pula yang selalu membisikiku untuk berhenti sejenak, sekedar memberi jeda. sekedar memberi hak jasad untuk beristirahat. tapi malam pula yang mimbikin aku berharap melibihi apapun. berharap bahwa esok...semua mimpi terwujud seperti Abracadabra!

Dan walaupu malam, tidak seterang siang...tapi aku akan tetap selalu menyukainya....insyaallah

Sabtu, 24 Maret 2012

Sedang kembali, akan memiliki banyak arti

Pada akhirnya, setiap orang harus mampu mengambil sebuah keputusan.

Melepaskan lagi, semua yang sudah mulai terbangun dari titik nol. Kalau boleh jujur...sebenarnya aku masih ingin disini. masih ingin menghirup udara di bumi bagian ini. masih ingin berbagi cerita, berproses bersama dengan kalian, teman-teman. Dan tentu saja masih ingin memberi arti pada canda tawa para malaikat kecil itu....

Tapi, aku harus melakukan ini,

zona nyaman ini sudah seperti zat adictif yang membuatku terlena dengar hingar-bingar keindahan dunia. karena terkadang, aku jadi lupa tentang kehidupan lain yang lebih membutuhkan perhatian. aku juga benar-benar tidak mengerti dan tidak sadar bahwa sampai saat ini aku belum melakukan sesuatu untuk mereka. Yah, aku belum melakukan apa-apa untuk mereka. Dan yang membuatku harus menelan ludah, dizona ini aku mengakui kini sedang terjangkiti virus apatis. jika aku terus berada disini, aku khawatir virus ini akan semakin terus menggerogoti kewarasanku.

Jadi, aku harus melakukan ini...

Untuk mereka....dan juga untuk mereka-ku yang mulai merenta dan menanti untuk merengkuh hidup kembali bersama anak gadisnya. rasanya aku tidak kuat saat mendengar suara diujung seberang yang selalu memintaku untuk kembali kepangkuan mereka. yah...mungkin saat ini aku terdengar terlalu "perempuan" kawan. Tapi, bukankah memang aku "perempuan", yang pada kodratnya dianugerahi hati yang sungguh peka. dan bukankah aku hanyalah seorang "perempuan" yang tercipta begitu saja untuk patuh...dan bukankah memang aku "perempuan" kawan, yang pada saatnya nanti aku harus mengikuti tradisi, meninggalkan rumah mereka dan mengabdi untuk seseorang. makanya, sebelum itu terjadi, aku hanya ingin membersamai mereka.

Jadi maafkan aku jika harus kembali. bukan untuk menyerah, kawan. tapi untuk mereka dan mereka-ku. dengar kawan,......Allah, Dia menciptakan kita bukan tanpa arti...jadi, aku hanya ingin semua ini ber-arti. bukan berarti, disini tidak-berarti, tetapi ada satu titik dimana aku merasa harus kembali. melakukan sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan materi. jadi maaf kawan, aku harus kembali.

L.O.V.E you all,

Sabtu, 18 Februari 2012

Mengisi Ruang kosong

“Adakalanya ketika kita patah hati, saat kita berdoa kepada Allah SWT, perasaan ini menjadi sedemikian halus, hingga tiap doa yang terucap begitu menggena pada hati, dan kita merasa begitu dekat denganNya…”

Kata-kata itu saya kutip dari kata-kata Teh Ninih, mantan istri salah seorang dai yang namanya nggak perlu saya sebutkan. Semua juga sudah tahu kalii…hihihihi…

Well, pada akhirnya saya begitu menikmati setiap malam-malam yang memaksa saya untuk selalu terjaga. Setidaknya, saya dapat beberapa ide untuk sekadar mengisi blog ini…setidaknya saya harus selalu mencari apapun yang bisa saya baca…dan ketemulah saya pada kalimat ini…ups…

Saya rasa, kata-kata ini ada benarnya juga. Saat-saat seperti ini, sebagian orang mungkin tidak begitu mengerti apa yang kita rasakan. Memang hanya sepele masalah hati, dan itu bukan masalah yang besar. Tapi bagi yang ngerasain, ini benar-benar menguras energy. Tidak bisa tidur, tidak nafsu makan padahal perut sudah keroncongan…selalu sedih tanpa sebab yang jelas…(padahal sebabnya Cuma satu…patah hati..hihihihi).

Dan terkadang kita tidak menyadari, bahwa disaat-saat seperti ini, biasanya sujud kita jauh lebih lama dari biasanya. Doa-doa yang dipanjatkanpun lebih mudah mengucur begitu saja, bahkan terkadang disertai airmata. Amalan-amalan sunnahpun dapat dengan mudah dan lancar dijalankan. Hmm…saya jadi terheraaan…biasanya kalau mau puasa sunnah, banyak sekali alesan, takut tambah kurus lah…takut nggak semangat lah kerjanya…tapi kalau lagi mengharu biru gini…rasa-rasanya alesan-alesan klise itu lenyap tak berbekas…

Dan saat-saat seperti ini, rasanya saya lebih dekat denganNya….lebih tenang…lebih tidak takut pada apapun selain Dia. Saya sangat bersyukur karena Dia menarik saya saat saya mungkin sudah jauh melawan arus. Saya lebih bersyukur lagi, Dia masih begitu…..membuat saya jatuh cinta lagi…membuat saya…merinduiNya setiap waktu melebihi waktu-waktu biasanya….

terimakasih teh ninih....(Lhoooooooohhhhh kok......)

Selasa, 14 Februari 2012

Tentang mereka, saya dan kaum terpinggirkan

Setiap pulang kerja kira-kira pukul Sembilan malam , saya selalu melihat anak-anak kecil berpakaian kumal menyodorkan tangannya kepada mereka yang berhenti di lampu merah. Pemandangan ini Kontras sekali dengan anak-anak yang saya ajar tiap harinya. Mereka sama saja anak-anak. Bedanya, anak yang dijalanan ini mungkin lebih tidak beruntung. Kehidupan memaksa mereka untuk mengais rejeki seperti orang dewasa walaupun waktunya belum terlalu tepat bagi mereka, Mungkin.

Setiap kali melihat anak jalanan ini saya selalu teringat dengan isi pembukaan UUD’45 Alinea IV yang menegaskan bahwa tujuan dibentuknya Pemerintahan Negara Republik Indonesia adalah : Pertama; melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Kedua; untuk memajukan kesejahteraan umum. Ketiga : mencerdaskan kehidupan bangsa, Selanjutnya di dalam Pasal 34 UUD 1945 menegaskan : (1) Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. (2) Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.

Regulasi untuk melindungi anak jalanan dan fakir miskin di negri ini memang sudah dibuat bahkan kebijakan ini telah ada secara implicit saat negri ini baru berdiri. Hanya saja, implementasinya mungkin yang belum benar-benar sempurna.

Sebagian orang hanya saling menyalahkan, Mungkin. Sebagian golongan hanya berani menyalahkan kinerja pemerintah tanpa berbuat apapun. Okay, kita perlu sepakat dulu disini bahwa pemerintah kita sedang terlalu berkecamuk. Banyak persoalan yang memang harus diselesaikan. Dan jika kita hanya menanti aksi dari pemerintah untuk melakukan perbaikan, rasanya saya kok tidak sabaran ya untuk menantinya….

Ada lagi sebagian dari mereka yang peduli dengan nasib anak-anak jalanan ini, yang secara personal atau kelopok mencoba membantu. Mendirikan rumah singgah atau sekadar rumah baca. Tujuannya jelas, mereka hanya ingin melakukan sesuatu, tidak besar memang tapi setidaknya mereka lebih mengutamakan aksinya daripada sekadar menanti pemerintah turun tangan. Dan golongan seperti inilah yang diperlukan bangsa ini. segolongan orang yang peduli dengan caranya sendiri.

Sekali lagi, tentu saja kita berada di pihak yang ingin membantu anak-anak yang kurang beruntung itu. Tapi apa jadinya jika kita belum cukup mampu untuk mendirikan rumah singgah atau kita sedang tidak bergabung dengan komunitas sejenis rumah singgah?

lakukanlah yang bisa dilakukan, walaupun kecil. Saya teringat dengan salah satu penggalan ayat alqur’an yang intinya, disebagian rezki yang diberikan Allah kepada kita terdapat hak mereka—kaum yang kurang beruntung. Jadi, walaupun sekarang kita bukan jutawan, tetapi jika kita mengaku peduli dengan nasib kaum yang kurang beruntung itu, mari bersama-sama menyisihkan rejeki kita. bukankah memang mereka punya hak atas rejeki yang dilewatkan Tuhan kepada kita? dan apa salahnya berbagi?

Dan saya, selalu berdoa untuk mereka, Ya Rabbi, jika atap dunia tidak cukup untuk melindungi mereka, ijinkanlah mereka berlindung di langitMu… jika kasih sayang umatMu tidak cukup menghangatkan mereka, cukuplah Kasih sayangMu untuk mereka….dan jika Engkau berkenan, kuatkan kami agar kami mampu melakukan sesuatu untuk mereka suatu saat nanti….

Selasa, 07 Februari 2012

Filosofi Barbie

Barbie. Saya yakin setiap anak perempuan mempunyainya ( termasuk saya…hahahahah). Boneka yang satu ini selalu kelihatan cantik. Berambut indah, berbadan seksi, dan senyum menawan. Perfect! Senyumnya selalu mengisyaratkan pada kita, bahwa dia bahagia mempunyai penampakan seperti itu. Belum percaya kalau si Barbie ini bahagia? Tengok aja beberapa film kartun yang tokoh utamanya Barbie. Hampir bisa dipastikan bahwa di akhir cerita, kisah si Barbie berakhir dengan indah. Hidup di istana, menikah dengan pangeran tampan, yah impian setiap anak perempuan.

Setiap anak perempuan, pasti menginginkan kehidupan seperti Barbie. Mempunyai tubuh yang indah. Wajah yang cantik. Baju-baju bagus. Pangeran tampan yang siap melindunginya. Dan, ah….semua tentang apapun yang dimiliki si Barbie. Tapi, ternyata setelah beranjak dewasa, dia akan mendapati bahwa kehidupan yang sebenarnya tidak melulu tentang keindahan. Dia akan melihat dirinya dalam kaca. rahangnya kurang menonjol, Matanya terlalu sipit, timbul jerawat dimana-mana. Dan untuk standarisasi Barbie, jelas ini tidak cantik. Dan dia harus menyadari bahwa di kehidupan yang sebenarnya, dia bukanlah seorang “Barbie.” Menyakitkan bukan? untuk menutupi kekurangan fisiknya, makanya dia akan berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkan baju-baju up to date, sepatu-sepatu, dan aksesoris lainnya . Tapi, justru ini membuatnya semakin tertekan karena dengan membeli semua barang-barang ini, dia harus mengucurkan banyak uang.

Seiring waktu berjalan, dia juga harus dipaksa untuk menerima kenyataan bahwa pangeran yang diharapkan akan meminangnya saat usianya tepat nanti, justru memilih orang lain yang bukan dirinya. Sedangkan orang yang bersedia membersamainya bukanlah setampan pangeran yang ada dalam imajinya. Sekali lagi, dia merasa ditampar kenyataan. Sakit!

Tapi, yang paling menyedihkan adalah bagaimana bila dia nanti tidak akan terlalu kuat untuk menjalani hidupnya. Di dunia yang nyata. Tidak semua hal buruk tiba-tiba menjadi indah seperti dalam kisah Barbie. Kita harus berusaha sungguh-sungguh untuk sekadar merubah keadaan. Kita juga harus berdoa memohon kekuatan diluar kita untuk memudahkan langkah kita. kita harus mampu menerima bahwa kita mungkin tidak terlalu cantik, tidak terlalu popular,dan tidak terlalu smart. Dan Kita harus menyadari bahwa kita manusia, mempunyai kekurangan. Tidak harus selalu menjadi nomor satu.

Dan saya belajar satu hal. Jika saya punya anak perempuan nanti saya tidak akan mendidiknya menjadi seperti Barbie, cukup ajari dia dengan kesederhanaan, seperti orang tua saya selalu mengajarkan kepada saya. Karena dengan belajar kesederhanaan, anak kita jadi mensyukuri apa yang dia punya. Menerima kodrat. Tidak memandang kebahagian, keiindahan hanya berdasarkan fisik semata. Dan pastinya, dia akan tumbuh menjadi seorang gadis yang kuat karena dia harus berusaha untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan dan segera bangkit saat terpuruk. (padahal saat tulisan ini diposting belum ada bayangan sama sekali tentang calon suami…hihihihi)