Jumat, 17 Februari 2012

Apa semua adam seperti itu?

Sudah lebih dari dua belas purnama. Ada rongga yang sengaja aku biarkan kosong. Ah…Aku memang sengaja membiarkannya kosong, atau aku hanya terlalu takut untuk mengisinya lagi? Karena masih terdengar begitu jelas ditelingaku. kata-kata itu. Membuatku sering meratap, mengasingkan diri saat malam memanggil. Membuatku berfikir, Apa semua adam seperti itu?

Sejak itu, kubiarkan hati memasung sunyi. Biar…biar…aku sudah lelah. Aku terlanjur luka. Huh…kupikir saat itu hanya aku yang mampu menyinarimu, tapi ternyata begitu banyak bintang bertaburan di malammu. Apa semua adam seperti itu?

Mungkin benar, tak ada yang lebih tabah dari hujan di bulan ini. Saat rintiknya menghapus semua yang berbekas. Saat dinginnya memaksaku melepas tangis. Untuk siapa? Untuk adam seperti itukah?

Dipenghujung bulan ini, apa aku akan masih seperti kapas yang terhempas di udara.?

Aku takut. Apa semua adam seperti itu?

Kamis, 16 Februari 2012

Maaf,

Aku tidak sedang menyesal. Karena penyesalan sama artinya dengan aku mengutuki diriku sendiri. Aku hanya teringat beberapa keping kenangan yang tiba-tiba saja melesat di angan. Kalau aku ingat-ingat rasanya aku pernah salah dalam "mengenali" kawan. Aku terlalu muda saat itu. Dan selalu saja, aku mengikuti aliran darahku. Bergejolak. Susah dikendalikan. Dan aku sering meninggalkan kawan itu sendirian. aku memang tidak ingin terlalu merasai hatiku saat itu.

Kalau dulu aku benar-benar menyadari kalau waktu tidak mampu kembali berputar sesuai dengan periodisasi yang aku inginkan, tentu saja aku tidak semudah itu melawan . Saat waktu memberi ruangnya kepadaku untuk lebih mengenali mereka, bukankah aku semestinya berada disisi mereka. Menertawakan badai atau hanya duduk-duduk di sebuah kursi panjang sambil menanti hujan reda? Ahhh….nyatanya saat itu, aku tak berada di sana membersamai mereka.

Tapi, bukankah aku adalah orang yang sangat beruntung? kawan itu selalu membuka pintunya saat aku kembali mengetuk. Saat aku ingin berteduh. Tuhan, Kau begitu sempurna menciptakan orang-orang ini. dan Kau begitu……menurunkan sifat welas asihMu kepada mereka. Aku memang tidak pandai merangkai kata untuk mengucap maaf. Tapi….maaf kawan…..

Selasa, 14 Februari 2012

Tentang mereka, saya dan kaum terpinggirkan

Setiap pulang kerja kira-kira pukul Sembilan malam , saya selalu melihat anak-anak kecil berpakaian kumal menyodorkan tangannya kepada mereka yang berhenti di lampu merah. Pemandangan ini Kontras sekali dengan anak-anak yang saya ajar tiap harinya. Mereka sama saja anak-anak. Bedanya, anak yang dijalanan ini mungkin lebih tidak beruntung. Kehidupan memaksa mereka untuk mengais rejeki seperti orang dewasa walaupun waktunya belum terlalu tepat bagi mereka, Mungkin.

Setiap kali melihat anak jalanan ini saya selalu teringat dengan isi pembukaan UUD’45 Alinea IV yang menegaskan bahwa tujuan dibentuknya Pemerintahan Negara Republik Indonesia adalah : Pertama; melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Kedua; untuk memajukan kesejahteraan umum. Ketiga : mencerdaskan kehidupan bangsa, Selanjutnya di dalam Pasal 34 UUD 1945 menegaskan : (1) Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. (2) Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.

Regulasi untuk melindungi anak jalanan dan fakir miskin di negri ini memang sudah dibuat bahkan kebijakan ini telah ada secara implicit saat negri ini baru berdiri. Hanya saja, implementasinya mungkin yang belum benar-benar sempurna.

Sebagian orang hanya saling menyalahkan, Mungkin. Sebagian golongan hanya berani menyalahkan kinerja pemerintah tanpa berbuat apapun. Okay, kita perlu sepakat dulu disini bahwa pemerintah kita sedang terlalu berkecamuk. Banyak persoalan yang memang harus diselesaikan. Dan jika kita hanya menanti aksi dari pemerintah untuk melakukan perbaikan, rasanya saya kok tidak sabaran ya untuk menantinya….

Ada lagi sebagian dari mereka yang peduli dengan nasib anak-anak jalanan ini, yang secara personal atau kelopok mencoba membantu. Mendirikan rumah singgah atau sekadar rumah baca. Tujuannya jelas, mereka hanya ingin melakukan sesuatu, tidak besar memang tapi setidaknya mereka lebih mengutamakan aksinya daripada sekadar menanti pemerintah turun tangan. Dan golongan seperti inilah yang diperlukan bangsa ini. segolongan orang yang peduli dengan caranya sendiri.

Sekali lagi, tentu saja kita berada di pihak yang ingin membantu anak-anak yang kurang beruntung itu. Tapi apa jadinya jika kita belum cukup mampu untuk mendirikan rumah singgah atau kita sedang tidak bergabung dengan komunitas sejenis rumah singgah?

lakukanlah yang bisa dilakukan, walaupun kecil. Saya teringat dengan salah satu penggalan ayat alqur’an yang intinya, disebagian rezki yang diberikan Allah kepada kita terdapat hak mereka—kaum yang kurang beruntung. Jadi, walaupun sekarang kita bukan jutawan, tetapi jika kita mengaku peduli dengan nasib kaum yang kurang beruntung itu, mari bersama-sama menyisihkan rejeki kita. bukankah memang mereka punya hak atas rejeki yang dilewatkan Tuhan kepada kita? dan apa salahnya berbagi?

Dan saya, selalu berdoa untuk mereka, Ya Rabbi, jika atap dunia tidak cukup untuk melindungi mereka, ijinkanlah mereka berlindung di langitMu… jika kasih sayang umatMu tidak cukup menghangatkan mereka, cukuplah Kasih sayangMu untuk mereka….dan jika Engkau berkenan, kuatkan kami agar kami mampu melakukan sesuatu untuk mereka suatu saat nanti….